JAKARTA, ANALISTIS.COM — Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) yang baru dilantik Presiden Prabowo Subianto menghadapi tantangan yang lebih besar daripada sekadar memberikan nasihat kepada kepala negara.
Mereka dituntut mampu menyampaikan kondisi secara apa adanya, termasuk ketika masukan yang diberikan tidak menyenangkan bagi Presiden.
Pesan tersebut disampaikan mantan anggota Wantimpres periode 2014–2019 dan 2019–2024, Sidarto Danusubroto, kepada para anggota Wantimpres yang baru dilantik.
Sidarto menegaskan, para penasihat Presiden tidak seharusnya hanya menyampaikan hal-hal yang baik atau menyenangkan.
“Jelek, baik, disampaikan apa adanya. Tidak boleh itu orang-orang senior itu memberikan hal yang menyenangkan. Itu enggak boleh,” ujar Sidarto.
Pernyataan tersebut menjadi relevan karena salah satu anggota Wantimpres baru adalah Rocky Gerung, tokoh yang selama ini dikenal kritis terhadap berbagai kebijakan pemerintah.
Rocky Tetap Kritis Meski Masuk Pemerintahan
Rocky menegaskan masuknya dirinya ke Wantimpres tidak mengubah sikap maupun pandangannya.
Usai dilantik Presiden Prabowo Subianto di Istana Negara, Jakarta, Jumat (2/10/2026), Rocky mengatakan dirinya hanya berpindah posisi dari luar pemerintahan ke dalam pemerintahan.
“Saya cuma pindah dari luar ke dalam. Sikap saya tetap, pandangan saya tetap, radical break,” ujar Rocky.
Baca Juga: Rocky Gerung di Wantimpres: “Kritis, Bukan Kritik”, Apa yang Berubah?
Rocky juga memberikan penekanan mengenai fungsi Wantimpres.
Menurut dia, tugas lembaga tersebut bukan sekadar mengkritik kebijakan Presiden, melainkan menjalankan fungsi kritis terhadap kebijakan.
Perbedaan tersebut menjadi penting karena posisi Rocky kini tidak lagi berada sepenuhnya di luar lingkaran pemerintahan.
Ia berada di dalam sebuah lembaga yang memberikan pertimbangan langsung kepada Presiden.
Menurut Rocky, setiap kebijakan pemerintah akan selalu memiliki persepsi positif maupun negatif. Karena itu, Wantimpres bertugas melihat persoalan secara lebih detail sebelum memberikan pertimbangan kepada kepala negara.
“Tugas dewan adalah mengingat dan menimbang dan memutuskan. Penetapannya ada pada presiden. Jadi kita membuat pertimbangan, user-nya adalah Bapak Presiden,” kata Rocky.
Sidarto: Jangan Hanya Memberikan Hal yang Menyenangkan
Pengalaman Sidarto menjadi bagian penting dalam melihat posisi Wantimpres kali ini.
Sidarto merupakan anggota Wantimpres pada dua periode pemerintahan Presiden Joko Widodo. Ia menyebut dirinya sebagai satu-satunya anggota yang menjalani dua periode tersebut.
Menurut Sidarto, pengalaman menjadi salah satu modal penting bagi seorang anggota Wantimpres.
Ia bahkan menilai anggota yang masih muda dengan pengalaman terbatas akan kesulitan memberikan pertimbangan yang benar-benar berarti.
“Kalau muda, dan limited pengalaman, ya useless itu,” ujar Sidarto.
Namun, pesan Sidarto tidak berhenti pada persoalan usia dan pengalaman.
Hal yang lebih penting adalah keberanian menyampaikan kondisi secara jujur kepada Presiden.
Sebab, fungsi penasihat justru dibutuhkan ketika seorang kepala negara membutuhkan pandangan yang tidak selalu sama dengan keinginannya.
Ujian Wantimpres Bukan Saat Memberi Nasihat yang Mudah
Di sinilah keberadaan Rocky Gerung menjadi menarik.
Selama berada di luar pemerintahan, Rocky dikenal menyampaikan kritiknya melalui ruang publik. Kini ia berada di dalam lembaga yang memiliki akses langsung untuk memberikan pertimbangan kepada Presiden.
Situasinya berubah.
Pertanyaannya bukan lagi apakah Rocky mampu mengkritik pemerintah.
Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah sikap kritis tersebut tetap dapat dipertahankan ketika pandangan itu disampaikan dari dalam lingkaran kekuasaan.
Di luar pemerintahan, kritik dapat disampaikan secara terbuka dan langsung mendapat respons publik.
Sementara di dalam Wantimpres, fungsi utamanya adalah memberikan pertimbangan kepada Presiden sebagai pengguna nasihat tersebut.
Karena itu, ukuran keberhasilan Wantimpres tidak cukup dilihat dari seberapa sering anggotanya berbicara di depan publik.
Yang lebih penting adalah apakah pertimbangan yang diberikan mampu membantu Presiden melihat persoalan secara lebih utuh.
Bukan Hanya Rocky yang Diuji
Perhatian publik memang tertuju kepada Rocky karena latar belakangnya sebagai pengamat yang selama ini dikenal kritis terhadap pemerintah.
Namun, persoalan Wantimpres sebenarnya jauh lebih besar daripada satu nama.
Ada 26 anggota yang kini berada dalam lembaga tersebut dengan latar belakang dan pengalaman yang berbeda.
Baca Juga: Prabowo Lantik 26 Wantimpres, Apa Sebenarnya Tugas Dewan Pertimbangan Presiden?
Mereka akan berhadapan dengan berbagai persoalan pemerintahan, mulai dari kebijakan ekonomi, politik, sosial, hukum hingga persoalan yang langsung dirasakan masyarakat.
Dalam situasi seperti itu, Wantimpres justru dibutuhkan untuk memberikan perspektif yang mungkin tidak selalu muncul dari lingkungan birokrasi.
Pesan Sidarto menjadi relevan: jangan menjadikan kedekatan dengan Presiden sebagai alasan untuk hanya menyampaikan sesuatu yang menyenangkan.
Sebaliknya, kedekatan tersebut seharusnya menjadi kesempatan untuk memberikan masukan yang lebih jujur dan lebih tajam.
Dari “Kritis” ke Pertanyaan yang Lebih Besar
Rocky mengatakan Wantimpres harus kritis, bukan sekadar kritik.
Sidarto memberikan penekanan lain: jangan hanya menyenangkan Presiden.
Dua pernyataan tersebut bertemu pada satu persoalan yang sama.
Bagaimana memastikan orang-orang yang berada dekat dengan pusat kekuasaan tetap mampu menyampaikan sesuatu yang mungkin tidak ingin didengar oleh penguasa?
Jawabannya tidak akan terlihat dari pelantikan.
Juga tidak cukup diukur dari pernyataan pertama Rocky setelah masuk Wantimpres.
Jawabannya baru akan terlihat ketika pemerintahan Prabowo menghadapi persoalan sulit, kebijakan kontroversial, atau keputusan yang menimbulkan kritik di masyarakat.
Pada titik itulah fungsi Wantimpres benar-benar diuji: apakah menjadi ruang yang menyampaikan apa yang ingin didengar Presiden, atau ruang yang membantu Presiden melihat apa yang mungkin tidak ingin didengarnya.
Penulis: Arya






