PANDEGLANG, ANALISTIS.COM — Di tengah laporan Dinas Kesehatan Provinsi Banten mengenai sekitar 387.250 temuan influenza A, Kabupaten Pandeglang belum dapat memastikan berapa banyak warganya yang benar-benar terinfeksi virus tersebut.
Persoalannya bukan semata jumlah warga yang mengalami gejala, tetapi kemampuan untuk memastikan jenis virus. Dinas Kesehatan Kabupaten Pandeglang mengakui belum memiliki PCR maupun rapid test khusus influenza untuk memastikan infeksi influenza tipe A.
Akibat keterbatasan tersebut, data yang tersedia di Pandeglang masih berupa pemantauan influenza-like illness (ILI), yakni kondisi dengan gejala yang menyerupai influenza.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Pandeglang, Dian Handayani, mengatakan pemeriksaan berdasarkan gejala tidak cukup untuk menentukan tipe virus.
“Kita tidak punya PCR untuk mendeteksi influenza jenis apa. Rapid test-nya juga kita tidak punya,” kata Dian, Senin (5/10/2026).
12.954 Bukan Berarti 12.954 Influenza A
Sepanjang Januari hingga September 2026, Dinkes Pandeglang mencatat 12.954 kasus ILI.
Namun, angka tersebut tidak dapat disebut sebagai 12.954 kasus influenza A.
Dian menegaskan keterbatasan alat diagnostik membuat pihaknya belum dapat menentukan tipe virus yang menyebabkan gejala tersebut.
“Untuk tipenya, karena kita tidak punya alat diagnostiknya, kita tidak bisa menentukan itu influenza jenis apa,” ujarnya.
Pada September 2026, tercatat sekitar 446 penderita dalam pemantauan. Dinkes menyebut grafiknya masih cenderung stabil dan belum menunjukkan peningkatan signifikan.
Baca Juga: Influenza A di Banten Tembus 387.250 Kasus
Sebelumnya, Dinkes Banten mencatat sekitar 387.250 temuan influenza A hingga awal Oktober 2026.
Dinkes menyebut penyebarannya cepat, tetapi risiko menimbulkan kegawatdaruratan dinilai masih rendah. Tingginya angka temuan juga berkaitan dengan skrining yang dilakukan rumah sakit, klinik, dan puskesmas terhadap pasien dengan gejala menyerupai influenza.
Baca Juga: Influenza A di Banten Tembus 387.250 Kasus, Dinkes: Penyebaran Cepat tapi Kegawatdaruratan Rendah
Namun, angka tingkat provinsi tersebut tidak otomatis menggambarkan kondisi Pandeglang secara spesifik.
Di Pandeglang, kemampuan untuk memastikan influenza A melalui pemeriksaan laboratorium masih terbatas. Karena itu, data gejala dan data infeksi yang telah dikonfirmasi tidak bisa disamakan.
Tren Kasus Masih Stabil
Meski belum memiliki alat untuk memastikan tipe virus, Dinkes Pandeglang tetap melakukan pemantauan melalui laporan fasilitas kesehatan.
Laporan tersebut dilakukan secara berkala melalui puskesmas di berbagai kecamatan. Dinkes juga mengikuti Surat Edaran Kementerian Kesehatan Nomor 600.6925 Tahun 2026 mengenai kewaspadaan terhadap peningkatan kasus influenza.
Dian mengatakan tren kasus sejak awal tahun hingga minggu ketiga September masih cenderung stabil.
“Dari mulai Januari sampai dengan minggu ketiga September 2026, trennya cenderung stabil, tidak ada peningkatan,” katanya.
Gejala Tidak Bisa Memastikan Influenza A
Dinkes Pandeglang mengingatkan masyarakat agar tidak menyimpulkan influenza A hanya berdasarkan gejala.
Batuk, pilek, demam, maupun keluhan saluran pernapasan lainnya dapat muncul pada berbagai jenis infeksi. Karena itu, pemeriksaan khusus diperlukan apabila ingin memastikan tipe virus.
Dian menegaskan tingkat keparahan gejala juga tidak dapat dijadikan dasar untuk menentukan seseorang terinfeksi influenza A.
“Kalau menentukan jenis influenza tipe A, itu harus berdasarkan hasil lab. Tidak bisa hanya berdasarkan gejala saja,” tegasnya.
Dinkes mengimbau masyarakat yang mengalami gejala infeksi saluran pernapasan untuk memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan serta menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat.
Persoalan di Balik Angka 387 Ribu
Kasus Pandeglang memperlihatkan bahwa angka besar di tingkat provinsi belum tentu memberikan gambaran yang sama detailnya di tingkat kabupaten.
387.250 merupakan angka temuan influenza A yang disampaikan Dinkes Banten, sementara 12.954 merupakan angka pemantauan kasus dengan gejala menyerupai influenza di Pandeglang yang belum dapat ditentukan jenis virusnya.
Keduanya memiliki konteks data yang berbeda.
Karena itu, angka 12.954 tidak boleh dibaca sebagai jumlah warga Pandeglang yang positif influenza A.
Justru di sinilah persoalan yang lebih penting muncul: ketika kasus penyakit meningkat, kemampuan untuk memastikan penyebabnya menjadi sama pentingnya dengan kemampuan menghitung jumlah pasien.
Tanpa pemeriksaan diagnostik yang memadai, pemerintah daerah masih dapat memantau tren gejala melalui puskesmas dan rumah sakit. Namun, pemetaan penyebaran virus secara spesifik akan tetap memiliki keterbatasan.
Pandeglang saat ini mengetahui bahwa ribuan warga tercatat dalam pemantauan gejala yang menyerupai influenza.
Tetapi untuk menjawab pertanyaan berapa banyak yang benar-benar terinfeksi influenza A, pemerintah daerah belum memiliki data yang cukup untuk memastikannya.
Dan pada titik itulah kualitas sistem surveilans kesehatan diuji: bukan hanya mampu mencatat berapa banyak orang yang sakit, tetapi juga mampu memastikan apa yang sedang menyebar di tengah masyarakat.
Penulis: Arya











