SERANG – Diabetes melitus selama ini dikenal sebagai penyakit yang identik dengan orang dewasa dan lanjut usia. Namun, data terbaru dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Banten menunjukkan fenomena yang patut menjadi perhatian serius. Penyakit yang selama ini sering dikaitkan dengan pola hidup orang dewasa ternyata juga ditemukan pada kelompok usia anak, bahkan bayi.
Berdasarkan data Dinkes Banten per 10 Juni 2026, terdapat 241 kasus diabetes pada anak usia 1 hingga 5 tahun dan 1.651 kasus pada kelompok usia 6 hingga 14 tahun. Selain itu, tercatat pula satu kasus diabetes pada bayi usia 0 hingga 11 bulan.
Temuan tersebut menjadi alarm bahwa diabetes tidak lagi dapat dipandang sebagai penyakit yang hanya mengancam kelompok usia lanjut. Ancamannya kini telah bergeser ke usia yang jauh lebih muda.
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Banten, dr. Ati Pramudji Hastuti, mengingatkan bahwa diabetes pada anak perlu menjadi perhatian serius karena penyakit tersebut tidak lagi hanya ditemukan pada kelompok usia dewasa.
“Kasus diabetes pada anak memang ada, bahkan ditemukan juga pada bayi. Karena itu pencegahan melalui pola hidup sehat harus dilakukan sejak dini,” ujarnya.
Pada saat yang sama, Dinkes Banten mencatat jumlah penderita diabetes di Provinsi Banten mencapai 94.607 kasus. Dari jumlah tersebut, sebanyak 69.809 kasus atau sekitar 73,8 persen berasal dari kelompok usia produktif 15 hingga 59 tahun.
Menurut Ati, diabetes merupakan kondisi ketika tubuh tidak mampu memproduksi insulin atau tidak dapat menggunakan insulin secara efektif sehingga menyebabkan kadar gula darah meningkat.
Pada anak-anak, diabetes dapat terjadi karena beberapa faktor. Untuk diabetes tipe 1, penyebab utamanya berkaitan dengan gangguan autoimun yang membuat sistem kekebalan tubuh menyerang sel pankreas penghasil insulin. Sementara diabetes tipe 2 lebih banyak dipengaruhi faktor gaya hidup, obesitas, pola makan, dan aktivitas fisik yang rendah.
Meski memiliki penyebab yang berbeda, keduanya sama-sama berpotensi menimbulkan dampak kesehatan jangka panjang apabila tidak ditangani sejak dini.
Ancaman yang Datang Lebih Cepat
Temuan hampir dua ribu kasus diabetes pada kelompok usia anak menunjukkan adanya perubahan pola penyakit yang perlu mendapat perhatian serius.
Selama beberapa dekade, diabetes dikenal sebagai penyakit degeneratif yang umumnya muncul seiring bertambahnya usia. Namun kini, perubahan gaya hidup membuat risiko penyakit tersebut muncul lebih cepat.
Konsumsi minuman berpemanis, makanan tinggi gula dan kalori, berkurangnya aktivitas fisik, serta meningkatnya kasus obesitas pada anak menjadi faktor yang sering dikaitkan dengan meningkatnya penyakit metabolik pada usia muda.
Fenomena tersebut tidak hanya menjadi persoalan individu atau keluarga, tetapi juga tantangan kesehatan masyarakat. Sebab semakin dini seseorang mengalami diabetes, semakin panjang pula risiko komplikasi yang dapat dihadapi sepanjang hidupnya.
Bukan Sekadar Penyakit Gula
Diabetes sering dianggap sekadar penyakit akibat tingginya kadar gula darah. Padahal dampaknya jauh lebih luas.
Apabila tidak dikendalikan dengan baik, diabetes dapat memicu berbagai komplikasi serius seperti penyakit jantung, stroke, gangguan ginjal, kerusakan saraf, hingga gangguan penglihatan.
Karena itu, meningkatnya temuan kasus pada anak menjadi persoalan yang tidak bisa dipandang ringan. Bukan hanya karena jumlahnya yang besar, tetapi karena penyakit tersebut berpotensi memengaruhi kualitas hidup generasi muda dalam jangka panjang.
Tantangan Bagi Banten
Sebagai salah satu provinsi dengan jumlah penduduk terbesar di Indonesia, Banten menghadapi tantangan kesehatan yang semakin kompleks. Selain masih harus menangani berbagai persoalan kesehatan dasar, pemerintah juga dihadapkan pada meningkatnya penyakit tidak menular seperti diabetes, hipertensi, dan penyakit jantung.
Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri bagi Banten yang merupakan salah satu provinsi dengan jumlah penduduk terbesar di Indonesia. Wilayah perkotaan seperti Kota Tangerang, Kota Tangerang Selatan, dan Kabupaten Tangerang mengalami perubahan pola hidup yang cepat seiring urbanisasi dan pertumbuhan ekonomi.
Di sisi lain, kemudahan akses terhadap makanan cepat saji, minuman berpemanis, serta menurunnya aktivitas fisik pada anak dan remaja menjadi faktor yang perlu mendapat perhatian dalam upaya menekan laju penyakit tidak menular di daerah.
Di tengah perubahan pola hidup masyarakat yang semakin urban, upaya pencegahan menjadi faktor yang sangat menentukan.
Peran keluarga dinilai menjadi garda terdepan dalam mencegah diabetes pada anak. Membiasakan pola makan sehat, mengurangi konsumsi makanan dan minuman tinggi gula, serta mendorong anak aktif bergerak menjadi langkah sederhana yang memiliki dampak besar dalam jangka panjang.
Selain itu, sekolah dan lingkungan masyarakat juga memiliki peran penting dalam membentuk kebiasaan hidup sehat sejak usia dini.
Data yang dirilis Dinkes Banten tersebut menjadi pengingat bahwa diabetes tidak lagi mengenal batas usia. Jika dahulu penyakit ini identik dengan kelompok usia lanjut, kini ancamannya telah hadir lebih dekat, bahkan di ruang-ruang kelas dan lingkungan tempat anak-anak tumbuh.
Bagi Banten, persoalannya bukan hanya bagaimana mengobati mereka yang telah terdiagnosis. Tantangan yang lebih besar adalah bagaimana mencegah generasi berikutnya menjadi bagian dari angka yang terus bertambah setiap tahun.
Tim Analistis.









