Karhutla Kalimantan Capai 18.973 Hektare, Kalimantan Tengah Jadi Titik Kritis Penanganan

JAKARTA, Analistis.com — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di tiga provinsi Kalimantan masih menjadi pekerjaan besar bagi pemerintah. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat luas lahan yang masih dalam penanganan mencapai 18.973 hektare, dengan Kalimantan Tengah menyumbang bagian terbesar.

Data yang disampaikan Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, dalam konferensi pers daring pada Jumat (23/10/2026), menunjukkan bahwa penanganan karhutla tidak hanya membutuhkan pengerahan personel dan armada udara, tetapi juga efektivitas operasi di lapangan.

Kalimantan Tengah menjadi wilayah dengan luasan terbesar, yakni 16.097 hektare. Sementara itu, Kalimantan Selatan mencatat 1.506 hektare dan Kalimantan Barat 1.370 hektare.

“Di Kalimantan Tengah dalam penanganan saat ini ada 16.097 hektare, ini yang paling tinggi. Di Kalimantan Selatan ada 1.506 hektare, Kalimantan Barat 1.370 hektare, sehingga total untuk tiga provinsi ini 18.973 hektare,” kata Berton.

Besarnya luasan yang masih ditangani di Kalimantan Tengah menjadi sinyal bahwa upaya pemadaman dan pencegahan perlu terus diperkuat. Namun, angka tersebut perlu dibaca secara tepat: data luas yang masih dalam penanganan tidak dengan sendirinya menunjukkan keseluruhan luas kebakaran sepanjang musim atau membuktikan bahwa api telah berhasil dikendalikan.

Baca Juga: 1.487 Hotspot Terdeteksi di Kalimantan, Karhutla Bakar 10,65 Hektare

Kalimantan Tengah Menanggung Beban Terbesar

Dari total 18.973 hektare yang masih dalam penanganan, sekitar 84,8 persen berada di Kalimantan Tengah. Angka ini memperlihatkan konsentrasi tantangan penanganan karhutla di provinsi tersebut dibandingkan dua provinsi lainnya.

Kondisi itu menuntut pemantauan yang cermat terhadap perkembangan titik kebakaran, kebutuhan personel, akses menuju lokasi, serta hasil pemadaman di setiap wilayah terdampak.

BNPB menyatakan telah menyiagakan 38.772 personel gabungan untuk menangani karhutla di tiga provinsi tersebut. Rinciannya, 16.387 personel berada di Kalimantan Tengah, 7.927 personel di Kalimantan Selatan, dan 14.458 personel di Kalimantan Barat.

Pengerahan personel dalam jumlah besar merupakan bagian penting dari respons darurat. Namun, ukuran keberhasilan tidak cukup dilihat dari jumlah petugas yang disiagakan. Publik juga membutuhkan informasi mengenai perkembangan luas area yang berhasil dipadamkan, titik api yang masih aktif, serta perubahan kondisi dari hari ke hari.

Tanpa indikator hasil yang diperbarui secara berkala, besarnya sumber daya yang dikerahkan akan sulit dinilai efektivitasnya.

35 Armada Udara Disiagakan, Operasi Bergantung pada Kondisi Cuaca

Selain mengerahkan personel, BNPB menyiapkan 35 armada udara untuk mendukung penanganan karhutla. Sebanyak 22 armada digunakan untuk operasi pengeboman air atau water bombing, sedangkan 13 armada lainnya mendukung patroli dan operasi modifikasi cuaca.

Operasi modifikasi cuaca dilakukan untuk membantu menciptakan kondisi yang mendukung pembentukan hujan di wilayah sasaran. Akan tetapi, pelaksanaannya bergantung pada kondisi atmosfer dan ketersediaan awan yang memenuhi persyaratan teknis.

BNPB melaporkan bahwa operasi penerbangan untuk modifikasi cuaca maupun water bombing tidak dilakukan di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Barat pada saat itu karena kondisi awan dinilai tidak mendukung.

Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa penanganan karhutla melalui udara tidak dapat berjalan hanya berdasarkan jumlah armada yang tersedia. Kesiapan pesawat dan helikopter harus disertai kondisi cuaca yang memungkinkan operasi dilakukan secara efektif dan aman.

Karena itu, strategi penanganan tetap perlu mengandalkan koordinasi antara operasi udara dan pemadaman darat, dengan menyesuaikan kebutuhan di setiap lokasi.

Baca Juga: Asap Karhutla Terdeteksi di Langit Jakarta Selama 6 Jam, BMKG Ungkap Pergerakannya

Tujuh Sorti Modifikasi Cuaca Dilakukan di Kalimantan Tengah

Untuk membantu mencegah perluasan kebakaran, BNPB melaksanakan operasi modifikasi cuaca di Kalimantan Tengah. Hingga laporan disampaikan, tujuh sorti penerbangan telah dilakukan dengan menyemai 5.000 kilogram dry ice dan 1.000 kilogram natrium klorida (NaCl).

Wilayah sasaran operasi mencakup Kabupaten Murung Raya, Gunung Mas, Kota Palangka Raya, dan kawasan Taman Nasional Tanjung Puting.

Operasi tersebut menjadi salah satu upaya untuk mendukung penanganan karhutla. Meski demikian, jumlah sorti dan bahan semai yang digunakan belum cukup untuk menyimpulkan bahwa operasi telah menghasilkan curah hujan yang memadai atau berhasil memadamkan kebakaran.

Evaluasi perlu didasarkan pada perkembangan cuaca, hasil pemantauan di lapangan, serta perubahan luasan kebakaran setelah operasi dilakukan.

Informasi mengenai hasil operasi menjadi penting agar publik dapat membedakan antara kegiatan yang telah dilaksanakan dan dampak nyata yang berhasil dicapai.

Pencegahan Tidak Bisa Bergantung pada Pemadaman

Karhutla bukan hanya persoalan teknis pemadaman ketika api telah muncul. Upaya pencegahan, pemantauan titik panas, kesiapan pemerintah daerah, dan penegakan hukum terhadap pembakaran lahan juga menjadi bagian penting dari penanganan.

Pengerahan personel dan armada udara dapat membantu merespons kebakaran, tetapi tidak menggantikan kebutuhan untuk mencegah sumber api baru dan mengawasi wilayah rawan secara berkelanjutan.

Baca Juga: Prabowo Sebut Karhutla Terorisme Lingkungan, 32 Konsesi Disanksi

Pemerintah daerah bersama instansi terkait perlu memastikan informasi mengenai titik kebakaran dan hasil penanganan dapat diakses serta diperbarui. Data yang jelas akan membantu masyarakat memahami wilayah yang paling membutuhkan perhatian dan memungkinkan evaluasi kebijakan dilakukan berdasarkan perkembangan nyata.

Di sisi lain, informasi mengenai penyebab kebakaran, status lahan, dan pihak yang bertanggung jawab tidak boleh disimpulkan tanpa hasil pemeriksaan yang dapat dipertanggungjawabkan.

Ukuran Keberhasilan Ada pada Hasil Penanganan

Luas karhutla yang masih dalam penanganan di tiga provinsi Kalimantan mencapai 18.973 hektare. Kalimantan Tengah menjadi wilayah dengan beban terbesar, sementara puluhan ribu personel dan puluhan armada udara disiagakan untuk mendukung upaya pemadaman.

Data tersebut menunjukkan besarnya sumber daya yang dikerahkan. Namun, tantangan berikutnya adalah memastikan pengerahan itu menghasilkan kemajuan yang terukur: semakin sedikit titik api aktif, semakin luas area yang berhasil dipadamkan, dan semakin rendah risiko kebakaran meluas kembali.

BNPB dan pemerintah daerah perlu terus menyampaikan pembaruan yang menjelaskan bukan hanya apa yang telah dikerahkan, melainkan juga hasil yang dicapai dan kendala yang masih dihadapi.

Pada akhirnya, keberhasilan penanganan karhutla tidak ditentukan oleh besarnya angka personel atau jumlah armada semata. Ukurannya adalah kemampuan mencegah kebakaran meluas, memadamkan api secara efektif, dan melindungi masyarakat serta lingkungan dari dampak karhutla.

 

Analistis.com — Tajam Membaca Peristiwa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *