Asap Karhutla Terdeteksi di Langit Jakarta Selama 6 Jam, BMKG Ungkap Pergerakannya

JAKARTA, ANALISTIS.COM — Asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sempat terpantau melintas di atmosfer Jakarta selama sekitar lima hingga enam jam. Namun, asap tersebut berada pada ketinggian lebih dari empat kilometer sehingga tidak dirasakan langsung oleh masyarakat di permukaan, menurut keterangan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menyampaikan informasi tersebut saat berada di Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (21/10/2026). Ia menjelaskan, keberadaan asap terpantau melalui peralatan pemantauan atmosfer dan kualitas udara yang digunakan BMKG.

“Kemarin sempat terpantau beberapa jam, kurang lebih sekitar, kalau saya tidak salah 5-6 jam. Jadi, masuknya itu memang asap yang berada di ketinggian lebih dari 4 kilometer,” kata Teuku.

Menurut dia, posisi asap yang berada jauh di atas permukaan membuat masyarakat tidak merasakan dampak langsung berupa bau asap di wilayah Jakarta. BMKG juga melakukan pemantauan secara kuantitatif menggunakan perangkat pemantauan kualitas udara di permukaan.

Teuku memastikan sebaran asap tersebut telah menjauh dari kawasan Jabodetabek, Banten, dan Jawa Barat.

Asap di atmosfer tidak otomatis berarti udara permukaan tercemar

Peristiwa ini memperlihatkan pentingnya membedakan keberadaan asap di atmosfer dengan paparan polutan yang dialami masyarakat di permukaan tanah.

Asap yang terdeteksi pada ketinggian beberapa kilometer tidak serta-merta berarti konsentrasi polutan di udara yang dihirup warga ikut meningkat. Dampaknya bergantung pada sejumlah faktor, termasuk ketinggian lapisan asap, arah dan kecepatan angin, kondisi atmosfer, serta kemungkinan partikel turun dan bercampur dengan udara di dekat permukaan.

Karena itu, pernyataan bahwa asap tidak dirasakan masyarakat perlu dipahami sesuai konteks pemantauan yang disampaikan BMKG. Hal tersebut bukan jaminan bahwa kualitas udara Jakarta selalu baik atau bebas dari sumber pencemaran lainnya.

Dalam siaran pers pada 17 Oktober 2026, BMKG menyatakan asap karhutla sempat memasuki wilayah Jawa bagian barat, termasuk Jabodetabek, tetapi tidak berlangsung lama dan tidak berdampak pada kualitas udara di permukaan. BMKG juga melaporkan bahwa sisa sebaran asap masih terpantau di pesisir barat Banten pada ketinggian sekitar 3–5,4 kilometer.

Informasi tersebut menunjukkan bahwa pemantauan asap tidak cukup hanya dengan melihat apakah langit tampak berkabut atau apakah warga mencium bau asap. Data atmosfer dan pengukuran kualitas udara di permukaan memiliki fungsi berbeda dan perlu dibaca secara bersamaan.

Banten tetap relevan dalam pemantauan asap

Bagi wilayah Banten, informasi mengenai pergerakan asap ini penting karena BMKG sebelumnya masih mendeteksi sisa sebaran asap di pesisir barat provinsi tersebut.

Meski asap dilaporkan mulai menjauh dari wilayah Jawa bagian barat, perkembangan atmosfer tetap perlu dipantau. Perubahan arah angin dapat memengaruhi pergerakan asap, sedangkan kondisi cuaca kering di sejumlah wilayah dapat meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi karhutla.

BMKG sebelumnya menjelaskan bahwa perubahan pola dan pergerakan angin di lapisan atmosfer turut memengaruhi pergeseran sebaran asap. Dengan demikian, informasi mengenai lokasi asap pada satu waktu tidak bisa otomatis digunakan untuk menyimpulkan kondisi pada waktu dan wilayah lain.

Bagi masyarakat, langkah yang lebih tepat adalah mengikuti informasi resmi BMKG dan memeriksa data kualitas udara setempat apabila ingin mengetahui kondisi udara yang benar-benar dihirup.

Baca Juga:1.487 Hotspot Terdeteksi di Kalimantan, Karhutla Bakar 10,65 Hektare

Tantangan pengawasan bukan hanya mendeteksi asap

Terpantau atau tidaknya asap di langit Jakarta juga memperlihatkan pentingnya sistem pemantauan yang mampu menjelaskan pergerakan polutan lintas wilayah.

Asap dari kebakaran hutan dan lahan dapat bergerak melintasi batas administratif. Oleh sebab itu, penanganannya tidak cukup dilakukan dengan pendekatan lokal, tetapi membutuhkan pemantauan meteorologi, pengendalian sumber kebakaran, dan koordinasi antardaerah.

Dalam konteks ini, informasi BMKG berperan sebagai dasar untuk memahami arah pergerakan asap dan potensi dampaknya. Sementara itu, upaya pencegahan dan penanggulangan kebakaran tetap diperlukan agar sumber asap tidak terus menghasilkan polusi yang dapat mengganggu masyarakat.

Baca Juga: Prabowo Sebut Pembakaran Karhutla sebagai Terorisme Lingkungan, Minta Pelaku Diusut Tuntas

Keberhasilan penanganan karhutla pada akhirnya tidak hanya diukur dari seberapa cepat asap menjauh dari suatu kota, tetapi juga dari kemampuan mencegah kebakaran berulang dan melindungi masyarakat di wilayah yang terdampak langsung.

 

Penulis: Kohar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 komentar