Gerindra Masih Teratas, PDI-P Menguat, PKS Naik dan NasDem Turun dalam Survei Poltracking

JAKARTA, ANALISTIS.COM — Partai Gerindra masih memimpin elektabilitas partai politik nasional dengan 22,9 persen. Namun, hasil survei terbaru Poltracking Indonesia memperlihatkan dinamika dukungan yang patut dicermati: elektabilitas PDI Perjuangan dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) meningkat dibandingkan survei sebelumnya, sedangkan Golkar dan NasDem mengalami penurunan.

Survei yang dilakukan pada 30 September hingga 7 Oktober 2026 itu menempatkan PDI-P di posisi kedua dengan elektabilitas 13,4 persen, disusul Partai Golkar sebesar 9,1 persen.

Direktur Eksekutif Poltracking Indonesia, Hanta Yuda Rasyid, menyampaikan hasil tersebut dalam pemaparan survei yang disiarkan melalui kanal YouTube Poltracking Indonesia pada Senin (19/10/2026).

“Elektabilitas Gerindra tertinggi, kemudian disusul PDI-P,” ujar Hanta.

Di balik posisi Gerindra yang masih dominan, perbandingan dengan survei sebelumnya memperlihatkan bahwa peta elektoral partai politik tidak sepenuhnya statis.

Gerindra Bertahan, Jarak PDI-P Menyempit

Dalam survei Poltracking pada 14–20 Agustus 2026, Gerindra mencatat elektabilitas 23,2 persen, sedangkan PDI-P memperoleh 11,6 persen.

Pada survei terbaru, elektabilitas Gerindra menjadi 22,9 persen, sementara PDI-P meningkat menjadi 13,4 persen.

Selisih elektabilitas kedua partai pun menyempit dari 11,6 menjadi 9,5 poin persentase.

Data tersebut menunjukkan Gerindra masih memimpin dengan jarak yang cukup besar. Namun, peningkatan angka PDI-P membuat persaingan di papan atas patut diperhatikan dalam pengukuran berikutnya.

Partai Golkar juga perlu mencermati pergerakan elektabilitasnya. Dari 10,4 persen pada survei Agustus, angka Golkar turun menjadi 9,1 persen dalam survei terbaru.

Meski demikian, perubahan angka dari dua periode survei tidak cukup untuk memastikan penyebabnya. Diperlukan data tambahan untuk mengetahui apakah perubahan berkaitan dengan kinerja partai, persepsi publik terhadap pemerintah, aktivitas politik, atau faktor lain.

PKS Menguat, NasDem Berada di Bawah Ambang Batas

Perubahan lain terlihat pada elektabilitas PKS dan NasDem.

PKS mencatat peningkatan dari 3,3 persen pada survei Agustus menjadi 5,8 persen pada survei terbaru. Sebaliknya, NasDem turun dari 4,4 persen menjadi 3,9 persen.

Posisi NasDem menjadi penting ketika dikaitkan dengan ambang batas parlemen sebesar 4 persen yang digunakan dalam simulasi peluang masuk DPR.

Dengan elektabilitas 5,8 persen, PKS berada di atas angka tersebut. Sementara itu, NasDem masih sedikit di bawahnya.

Hanta menyebut tujuh partai berpotensi lolos ke DPR apabila ambang batas parlemen tetap sebesar 4 persen, yakni Gerindra, PDI-P, Golkar, PKB, PKS, Demokrat, dan NasDem.

Namun, angka NasDem sebesar 3,9 persen tidak serta-merta memastikan partai tersebut gagal masuk parlemen. Margin of error survei sekitar ±2,9 persen perlu menjadi bagian dari pembacaan statistik, meskipun margin of error bukan batas pasti bagi hasil elektabilitas setiap partai.

Baca Juga: PT 5 Persen Menguat di Revisi UU Pemilu, Partai Nonparlemen Balik Menolak

Perdebatan mengenai ambang batas parlemen menjadi konteks penting dalam membaca hasil survei. Perubahan aturan dapat memengaruhi strategi partai dalam menghadapi pemilu, tetapi hasil survei elektabilitas saja tidak cukup untuk menentukan seperti apa konfigurasi parlemen mendatang.

Seperempat Responden Tidak Menjawab

Angka lain yang patut diperhatikan adalah 24,2 persen responden menyatakan tidak tahu atau tidak menjawab ketika ditanya mengenai pilihan partai politik.

Proporsi tersebut lebih besar daripada elektabilitas PDI-P yang berada di posisi kedua.

Namun, kelompok tidak tahu atau tidak menjawab tidak bisa langsung disamakan dengan seluruh pemilih yang belum menentukan pilihan. Sebagian responden mungkin belum memiliki preferensi, sementara sebagian lainnya bisa memilih tidak memberikan jawaban.

Besarnya proporsi tersebut memperlihatkan bahwa peringkat elektabilitas belum menggambarkan keseluruhan dinamika preferensi politik masyarakat.

Bagi partai politik, tantangannya bukan hanya meningkatkan popularitas, melainkan juga membangun kepercayaan dan menjelaskan relevansi program mereka bagi masyarakat.

Di sisi lain, arah pembahasan regulasi pemilu juga perlu dicermati karena dapat memengaruhi strategi pencalonan dan persaingan antarkekuatan politik.

Baca Juga: Panja RUU Pemilu Kaji Pileg dan Pilpres Dipisah, Hasil Pileg Bisa Jadi Dasar Pencalonan

Elektabilitas 18 Partai Politik

Berikut hasil survei Poltracking Indonesia periode 30 September–7 Oktober 2026:

  1. Partai Gerindra: 22,9 persen
  2. PDI Perjuangan: 13,4 persen
  3. Partai Golkar: 9,1 persen
  4. Partai Kebangkitan Bangsa (PKB): 7,1 persen
  5. Partai Keadilan Sejahtera (PKS): 5,8 persen
  6. Partai Demokrat: 5,4 persen
  7. Partai NasDem: 3,9 persen
  8. Partai Solidaritas Indonesia (PSI): 2,9 persen
  9. Partai Amanat Nasional (PAN): 2,2 persen
  10. Partai Persatuan Pembangunan (PPP): 1,6 persen
  11. Partai Persatuan Indonesia (Perindo): 0,5 persen
  12. Partai Gelombang Rakyat Indonesia (Gelora): 0,3 persen
  13. Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura): 0,2 persen
  14. Partai Ummat: 0,1 persen
  15. Partai Bulan Bintang (PBB): 0,1 persen
  16. Partai Garuda: 0,1 persen
  17. Partai Kebangkitan Nusantara (PKN): 0,1 persen
  18. Partai Buruh: 0,1 persen

Responden yang menyatakan tidak tahu atau tidak menjawab tercatat sebesar 24,2 persen.

Metodologi Survei

Poltracking Indonesia melaksanakan survei nasional pada 30 September hingga 7 Oktober 2026 dengan melibatkan 1.220 responden yang telah memiliki hak pilih.

Pengambilan sampel menggunakan metode multistage random sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara tatap muka, dengan margin of error sekitar ±2,9 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.

Hasil survei menggambarkan preferensi responden selama periode pengumpulan data. Angka elektabilitas bukan prediksi pasti hasil pemilu, dan perubahan di antara dua survei belum dengan sendirinya menjelaskan alasan di balik perubahan dukungan.

 

ANALISTIS.COM — Tajam Membaca Peristiwa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 komentar