SERANG RAYA – Provinsi Banten selama ini dikenal sebagai salah satu motor penggerak ekonomi nasional. Letaknya yang berbatasan langsung dengan DKI Jakarta, keberadaan kawasan industri berskala internasional di Tangerang Raya dan Cilegon, serta jaringan jalan tol yang terus berkembang menjadikan Banten sebagai salah satu tujuan utama investasi di Indonesia.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan perekonomian Banten pada 2025 tumbuh 5,37 persen dengan nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) mencapai sekitar Rp936 triliun. Capaian tersebut menempatkan Banten sebagai salah satu provinsi dengan kekuatan ekonomi terbesar di Indonesia.
Namun di balik pertumbuhan tersebut, muncul pertanyaan yang terus menjadi pekerjaan rumah pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat, yakni mengapa pembangunan di Banten masih terkonsentrasi di wilayah utara, sementara Banten Selatan belum berkembang secepat daerah lainnya?
Konsentrasi Ekonomi Masih Bertumpu di Banten Utara
Perbedaan pembangunan terlihat dari kontribusi ekonomi masing-masing kabupaten dan kota terhadap PDRB Provinsi Banten.
Berdasarkan data pemerintah daerah dan BPS, Kota Tangerang menjadi penyumbang ekonomi terbesar dengan kontribusi sekitar 25,64 persen terhadap total PDRB Provinsi Banten. Posisi berikutnya ditempati Kabupaten Tangerang sekitar 21,16 persen, disusul Kota Cilegon sekitar 15,37 persen, serta Kota Tangerang Selatan sekitar 12,69 persen.
Sebaliknya, Kabupaten Lebak dan Kabupaten Pandeglang masih memberikan kontribusi ekonomi yang jauh lebih kecil. Struktur ekonomi kedua daerah tersebut masih didominasi sektor pertanian, perikanan, perdagangan lokal, dan pariwisata sehingga nilai tambah ekonominya belum sebesar kawasan industri di Tangerang Raya maupun Cilegon.
Data tersebut menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi Banten hingga kini masih bertumpu di wilayah utara.
Memahami Pembagian Wilayah Banten
Dalam konteks pembangunan, Banten secara umum dapat dipahami dalam dua kawasan besar.
Banten Utara meliputi Kota Tangerang, Kabupaten Tangerang, Kota Tangerang Selatan, Kota Cilegon, Kota Serang, serta sebagian Kabupaten Serang. Kawasan ini berkembang sebagai pusat industri, perdagangan, jasa, dan logistik karena didukung akses menuju Jakarta, jalan tol, pelabuhan, serta kawasan industri berskala nasional.
Sementara itu, Banten Selatan mencakup Kabupaten Lebak dan Kabupaten Pandeglang yang memiliki keunggulan pada sektor pertanian, perkebunan, perikanan, kehutanan, dan pariwisata. Meski memiliki potensi besar, kedua daerah tersebut masih membutuhkan penguatan infrastruktur, investasi, dan peningkatan kualitas sumber daya manusia agar mampu menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru.
Mengapa Kesenjangan Itu Terjadi?
Ada sejumlah faktor yang menyebabkan pembangunan di Banten belum merata.
Wilayah utara memiliki keunggulan berupa kedekatan dengan Jakarta sebagai pusat ekonomi nasional, akses Jalan Tol Jakarta–Merak, jaringan pelabuhan, kawasan industri, serta infrastruktur logistik yang jauh lebih lengkap.
Kondisi tersebut menciptakan efek aglomerasi, yakni kecenderungan investor memilih kawasan yang telah memiliki ekosistem industri matang, tenaga kerja terampil, dan akses distribusi yang efisien.
Sebaliknya, Banten Selatan masih menghadapi tantangan berupa keterbatasan infrastruktur pendukung, minimnya industri pengolahan, serta investasi yang belum sebesar wilayah utara. Akibatnya, banyak masyarakat usia produktif memilih merantau ke Tangerang Raya maupun Jakarta untuk mencari pekerjaan.
Potensi Besar yang Belum Dimaksimalkan
Di balik berbagai tantangan tersebut, Banten Selatan menyimpan potensi ekonomi yang sangat besar.
Kabupaten Lebak memiliki potensi pada sektor pertanian, perkebunan, dan sumber daya alam. Sementara Kabupaten Pandeglang dikenal memiliki kawasan wisata unggulan seperti Tanjung Lesung, Pantai Carita, dan Taman Nasional Ujung Kulon yang telah diakui sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO.
Apabila potensi tersebut dikembangkan melalui hilirisasi hasil pertanian, penguatan UMKM, peningkatan kualitas SDM, serta investasi yang berkelanjutan, wilayah selatan berpeluang menjadi mesin pertumbuhan ekonomi baru.
Proyek Strategis yang Berpotensi Mengubah Wajah Banten Selatan
Harapan pemerataan pembangunan mulai terlihat melalui sejumlah proyek strategis nasional.
Jalan Tol Serang–Panimbang diproyeksikan memangkas waktu tempuh menuju Kabupaten Lebak dan Pandeglang sehingga mobilitas orang maupun distribusi barang menjadi lebih efisien.
Tol tersebut juga menjadi akses utama menuju Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Tanjung Lesung yang dikembangkan sebagai destinasi pariwisata bertaraf internasional.
Di sisi lain, pengembangan Pelabuhan Bojonegara di Kabupaten Serang diproyeksikan memperkuat sistem logistik nasional sekaligus mengurangi beban Pelabuhan Tanjung Priok.
Sementara kawasan industri seperti Krakatau Industrial Estate Cilegon (KIEC), Modern Cikande Industrial Estate, dan berbagai kawasan industri di Tangerang Raya diharapkan mampu menjadi motor investasi yang manfaatnya dapat menjangkau wilayah selatan.
Namun pembangunan infrastruktur saja tidak cukup. Pemerintah juga perlu memastikan hadirnya investasi baru, pendidikan vokasi, layanan kesehatan yang memadai, serta pusat-pusat ekonomi yang mampu menyerap tenaga kerja lokal.
Belajar dari Provinsi Lain
Pengalaman di sejumlah provinsi menunjukkan bahwa pemerataan pembangunan bukan hal yang mustahil.
Jawa Barat berhasil memperluas pusat pertumbuhan industri dari Bekasi dan Karawang ke Purwakarta, Subang, hingga kawasan Rebana Metropolitan.
Sementara Jawa Tengah mengembangkan kawasan industri Kendal dan Batang sebagai pusat investasi baru.
Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa dengan perencanaan yang tepat, wilayah yang sebelumnya tertinggal dapat berkembang menjadi pusat ekonomi baru tanpa harus mengurangi peran kawasan yang telah maju.
Tantangan Pemerataan Investasi
Berbagai kajian pembangunan daerah menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi yang tinggi tidak selalu diikuti pemerataan kesejahteraan.
Selama investasi lebih banyak terkonsentrasi di wilayah utara, kesenjangan pembangunan berpotensi tetap terjadi. Oleh karena itu, tantangan terbesar Banten bukan hanya menarik investasi dalam jumlah besar, tetapi memastikan investasi tersebut mampu menciptakan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru di Lebak dan Pandeglang.
Pemerintah juga perlu memperkuat hilirisasi sektor pertanian, perikanan, dan pariwisata agar potensi lokal mampu menghasilkan nilai tambah yang lebih tinggi.
Risiko Jika Ketimpangan Terus Berlanjut
Apabila kesenjangan pembangunan tidak segera diperkecil, urbanisasi menuju Tangerang Raya diperkirakan akan terus meningkat. Kondisi ini dapat menambah tekanan terhadap kebutuhan perumahan, transportasi, pendidikan, dan layanan kesehatan di wilayah utara.
Di sisi lain, wilayah selatan berisiko kehilangan tenaga kerja produktif karena sebagian besar memilih mencari pekerjaan di luar daerah. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat memperlebar ketimpangan pendapatan sekaligus menghambat pemanfaatan potensi ekonomi yang sebenarnya dimiliki Lebak dan Pandeglang.
Banten 2030–2045: Peluang Menjadi Pusat Pertumbuhan Baru
Dalam dua dekade mendatang, Banten memiliki peluang besar menjadi salah satu pusat pertumbuhan ekonomi terkuat di Indonesia.
Apabila pembangunan Tol Serang–Panimbang, pengembangan KEK Tanjung Lesung, peningkatan kapasitas Pelabuhan Bojonegara, serta pembangunan jaringan logistik modern berjalan sesuai rencana, peta ekonomi Banten berpotensi berubah secara signifikan.
Lebak dan Pandeglang tidak lagi hanya dikenal sebagai daerah agraris dan pariwisata, tetapi juga berpotensi berkembang menjadi pusat investasi, industri pengolahan, dan ekonomi kreatif yang mampu menciptakan lapangan kerja baru.
Analisis
Pertumbuhan ekonomi Banten menunjukkan bahwa provinsi ini memiliki fondasi kuat sebagai salah satu pusat industri nasional. Namun pertumbuhan yang tinggi belum sepenuhnya diikuti pemerataan pembangunan antarwilayah.
Kesenjangan pembangunan bukan sekadar perbedaan angka statistik, melainkan perbedaan kesempatan hidup. Perbedaan akses terhadap pendidikan, pekerjaan, layanan kesehatan, dan investasi akan menentukan kualitas hidup masyarakat di masa depan.
Keberhasilan pembangunan Banten tidak hanya diukur dari besarnya investasi atau tingginya PDRB, tetapi juga dari kemampuan menghadirkan manfaat pembangunan secara merata hingga ke seluruh wilayah.
Apabila pemerataan infrastruktur, investasi, pendidikan, dan kesempatan kerja dapat diwujudkan secara konsisten, Banten tidak hanya akan menjadi gerbang ekonomi nasional, tetapi juga contoh keberhasilan pembangunan yang inklusif. Masa depan Banten akan sangat ditentukan oleh kemampuannya menjadikan pertumbuhan ekonomi tidak hanya tinggi, melainkan juga merata hingga ke wilayah selatan.
Redaksi Analistis.






