Mengapa Pertumbuhan Ekonomi Banten Belum Selalu Terasa di Semua Wilayah?

SERANG — Perekonomian Banten terus menunjukkan pertumbuhan. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekonomi Banten pada triwulan II 2026 tumbuh 5,49 persen secara tahunan, sementara secara kumulatif semester I 2026 tumbuh 5,57 persen.

Namun, di balik angka tersebut muncul pertanyaan yang lebih penting: seberapa merata pertumbuhan ekonomi itu dirasakan masyarakat di seluruh wilayah Banten?

Pertanyaan ini tidak sederhana. Banten memiliki delapan kabupaten dan kota dengan karakter ekonomi, infrastruktur, kualitas sumber daya manusia, serta tingkat kemajuan yang berbeda.

Karena itu, pertumbuhan ekonomi provinsi tidak otomatis berarti seluruh wilayah bergerak dengan kecepatan yang sama.

Baca Juga: Profil Provinsi Banten 2026: Demografi, Ekonomi, Infrastruktur, dan Potensi Investasi

Pertumbuhan Ekonomi Tidak Seragam

Secara agregat, angka pertumbuhan Banten memang positif. Tetapi angka provinsi merupakan gabungan dari berbagai aktivitas ekonomi di Tangerang Raya, Serang, Cilegon, hingga Pandeglang dan Lebak.

Ada wilayah yang ditopang industri dan jasa dengan infrastruktur relatif lengkap. Ada pula wilayah yang masih bergantung pada pertanian, perdagangan lokal, pariwisata, serta sektor informal.

Perbedaan struktur ekonomi tersebut membuat dampak pertumbuhan tidak otomatis sama.

Wilayah yang sudah memiliki kawasan industri, akses jalan, pasar, pendidikan dan konektivitas akan lebih mudah menangkap peluang ekonomi baru.

Sebaliknya, daerah yang infrastrukturnya belum sekuat pusat pertumbuhan membutuhkan waktu lebih panjang untuk memperoleh manfaat yang sama.

Ketimpangan Wilayah Masih Menjadi Pekerjaan Rumah

Persoalan pemerataan juga berkaitan dengan kesenjangan pembangunan antara kawasan utara dan selatan Banten.

Banten Selatan memiliki potensi pertanian, pariwisata, kelautan dan sumber daya alam yang besar. Namun potensi tersebut belum sepenuhnya berubah menjadi kekuatan ekonomi yang sebanding dengan kawasan yang lebih maju.

Baca Juga: Mengapa Banten Selatan Masih Tertinggal? Analisis Kesenjangan Pembangunan yang Masih Menjadi PR Besar

Artinya, persoalan pembangunan Banten bukan hanya bagaimana meningkatkan pertumbuhan, tetapi juga bagaimana membuka lebih banyak pusat pertumbuhan baru.

Jika aktivitas ekonomi terus terkonsentrasi di kawasan yang sudah maju, kesenjangan antardaerah akan lebih sulit diperkecil.

Investasi Besar Belum Otomatis Membuat Masyarakat Sejahtera

Banten merupakan salah satu daerah tujuan investasi penting di Indonesia.

Realisasi investasi Banten pada 2025 mencapai sekitar Rp130,2 triliun. Pada triwulan I 2026, investasi kembali mencapai sekitar Rp34,4 triliun dan disebut menyerap lebih dari 51 ribu tenaga kerja.

Tetapi investasi besar tidak otomatis menyelesaikan seluruh persoalan ketenagakerjaan.

Baca Juga: Investasi Terus Mengalir, Mengapa Banten Belum Menjadi Pusat Industri Berbasis SDM?

Persoalannya terletak pada hubungan antara investasi dan kualitas tenaga kerja.

Industri membutuhkan kompetensi tertentu. Jika keterampilan tenaga kerja lokal tidak sesuai kebutuhan industri, maka keberadaan investasi belum tentu menghasilkan mobilitas ekonomi yang maksimal bagi masyarakat di sekitarnya.

Karena itu, ukuran keberhasilan investasi tidak cukup hanya dilihat dari nilai modal yang masuk.

Pertanyaan yang lebih penting adalah berapa banyak tenaga kerja lokal yang mendapatkan pekerjaan berkualitas, berapa banyak masyarakat yang naik kelas secara keterampilan, dan seberapa besar investasi tersebut menciptakan ekosistem ekonomi baru.

Tata Ruang Menentukan Ke Mana Pertumbuhan Bergerak

Kabupaten Serang menjadi salah satu contoh bagaimana investasi dan tata ruang saling berkaitan.

Pertumbuhan kawasan industri di sejumlah wilayah Kabupaten Serang telah menjadikan daerah tersebut sebagai salah satu titik penting ekonomi Banten.

Namun semakin besar aktivitas industri, semakin besar pula kebutuhan terhadap jalan, transportasi, permukiman, air, pelayanan publik dan tenaga kerja.

Baca Juga: Perubahan Tata Ruang 2026: Kunci Investasi dan Pusat Ekonomi Baru Kabupaten Serang

Tata ruang akhirnya bukan sekadar persoalan teknis pemerintahan.

Ia menentukan di mana kawasan industri berkembang, ke mana permukiman bergerak, bagaimana pusat perdagangan terbentuk, dan wilayah mana yang mendapatkan akses terhadap infrastruktur.

Jika tata ruang dirancang dengan baik, investasi dapat menciptakan pusat-pusat ekonomi baru.

Sebaliknya, jika pertumbuhan ruang hanya mengikuti pusat ekonomi yang sudah ada, konsentrasi pembangunan dapat semakin kuat.

Pertumbuhan Harus Menghasilkan Kesempatan

Masyarakat tidak merasakan angka pertumbuhan ekonomi secara langsung.

Masyarakat merasakan pertumbuhan melalui pekerjaan, pendapatan, akses pendidikan, jalan yang lebih baik, peluang usaha, pelayanan publik dan biaya distribusi yang lebih rendah.

Karena itu, pertumbuhan ekonomi yang berkualitas seharusnya menghasilkan mobilitas ekonomi.

Anak muda di daerah harus memiliki peluang mendapatkan pekerjaan yang layak tanpa selalu harus berpindah ke Tangerang atau Jakarta.

Pelaku UMKM harus memperoleh akses pasar yang lebih luas.

Petani dan nelayan harus mendapatkan nilai tambah yang lebih besar dari rantai produksi.

Masyarakat di sekitar kawasan industri juga harus memiliki kesempatan menjadi bagian dari ekosistem ekonomi yang tumbuh di wilayahnya.

Infrastruktur dan SDM Menjadi Penentu

Jalan dan konektivitas bukan hanya soal mempercepat perjalanan.

Infrastruktur menentukan biaya logistik, akses pekerja menuju pusat ekonomi, distribusi barang, hingga kemampuan sebuah wilayah menarik investasi.

Namun infrastruktur saja tidak cukup.

Kualitas sumber daya manusia menjadi faktor yang menentukan apakah masyarakat lokal mampu menangkap peluang yang muncul dari pembangunan.

Industri modern membutuhkan tenaga kerja yang memiliki keterampilan teknis, kemampuan beradaptasi dengan teknologi, serta kompetensi yang sesuai kebutuhan pasar.

Karena itu, pembangunan SDM harus berjalan beriringan dengan investasi.

Jangan sampai daerah hanya menjadi tempat berdirinya industri, sementara sebagian besar nilai tambah ekonomi justru dinikmati oleh tenaga kerja dengan kompetensi yang didatangkan dari luar daerah.

Dari Pertumbuhan Menuju Pemerataan

Banten sebenarnya memiliki modal yang kuat untuk menjadi salah satu pusat pertumbuhan ekonomi nasional.

Industri sudah ada. Investasi terus masuk. Infrastruktur berkembang. Jumlah penduduk besar. Posisi geografis sangat strategis.

Tantangannya sekarang adalah menghubungkan seluruh modal tersebut agar manfaatnya menyebar lebih luas.

Pertumbuhan ekonomi harus diterjemahkan menjadi kesempatan.

Kesempatan untuk bekerja, berusaha, belajar, meningkatkan keterampilan dan memperbaiki taraf hidup.

Karena itu, keberhasilan pembangunan Banten tidak cukup diukur dari seberapa tinggi pertumbuhan ekonomi atau seberapa besar investasi yang masuk.

Yang juga harus diukur adalah apakah kesenjangan antarwilayah berkurang, apakah kualitas pekerjaan meningkat, apakah pusat ekonomi baru tumbuh, dan apakah masyarakat lokal memperoleh manfaat lebih besar.

Pada akhirnya, pertanyaan pembangunan Banten bukan lagi sekadar berapa persen ekonominya tumbuh.

Pertanyaan yang lebih penting adalah:

Seberapa banyak masyarakat Banten yang ikut tumbuh bersama ekonomi tersebut?

Jika pertumbuhan hanya terkonsentrasi di pusat-pusat ekonomi lama, angka makro bisa terlihat baik sementara kesenjangan tetap menjadi pekerjaan rumah.

Namun jika pertumbuhan mampu menyebar melalui investasi berkualitas, tata ruang yang tepat, infrastruktur yang terhubung dan SDM yang kuat, maka Banten tidak hanya tumbuh secara ekonomi.

Banten akan tumbuh dengan kesempatan yang lebih merata.

 

Redaksi Analistis.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *