Siswa Bermasalah Banten Bakal Masuk Barak TNI, 600–1.000 Anak Disiapkan Mulai Oktober

SERANG — Pemerintah Provinsi Banten menyiapkan program pembinaan bagi siswa SMA/SMK sederajat yang membutuhkan pembinaan lebih personal dengan melibatkan Tentara Nasional Indonesia (TNI). Program tersebut direncanakan mulai Oktober 2026 dengan target 600 hingga 1.000 siswa.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Banten Jamaluddin mengatakan, pembinaan akan dilaksanakan di tiga titik yang melibatkan satuan TNI di Banten.

“Itu rencananya di bulan Oktober ini, insya Allah. Ya kita adakan di tiga titik yang menjadi lokasi pembinaan,” kata Jamaluddin kepada wartawan, Jumat (25/9/2026).

Jamaluddin menyebut tiga lokasi tersebut yakni 203, Cobra, dan Kopassus.

Program pembinaan akan berlangsung selama dua hari satu malam. Siswa akan mendapatkan materi mengenai kedisiplinan, tanggung jawab, kemandirian, serta bela negara.

Namun, Jamaluddin menegaskan siswa tidak akan mendapatkan pola pendidikan militer seperti prajurit TNI.

“Pembinaan dalam rangka pembinaan rasa tanggung jawab, kemandirian, itu penting. Di situ diajarin, tapi tidak digembleng seperti TNI,” ujarnya.

Bukan Sekadar Siswa yang Melanggar

Meski muncul dengan narasi pembinaan bagi siswa bermasalah, program tersebut tidak hanya ditujukan kepada siswa yang melakukan pelanggaran.

Dindikbud Banten juga menyiapkan keterlibatan pengurus OSIS, MPK, serta siswa yang memiliki potensi kepemimpinan.

Dengan demikian, program tersebut memiliki dua sisi: pembinaan bagi siswa yang membutuhkan penanganan lebih personal sekaligus penguatan karakter dan kepemimpinan bagi siswa lainnya.

Jamaluddin mengatakan keterlibatan TNI diharapkan membantu sekolah membentuk kedisiplinan dan karakter siswa.

“Saya minta TNI membantu kami untuk bagaimana ke depan anak-anak itu bisa berubah,” katanya.

Pertanyaan Besarnya Ada Setelah Mereka Pulang

Di sinilah program tersebut menarik untuk dilihat lebih jauh.

Pembinaan hanya direncanakan berlangsung dua hari satu malam. Sementara tujuan yang disampaikan pemerintah adalah perubahan perilaku, peningkatan tanggung jawab dan kemandirian.

Maka persoalan utamanya bukan hanya apa yang dilakukan siswa selama berada di barak.

Pertanyaan berikutnya adalah apa yang terjadi setelah mereka kembali ke sekolah?

Apakah tingkat kehadiran siswa membaik?

Apakah pelanggaran tata tertib berkurang?

Apakah perubahan perilaku dapat dipertahankan?

Dan bagaimana sekolah melakukan evaluasi terhadap siswa setelah mengikuti pembinaan?

Jawaban atas pertanyaan tersebut penting karena keberhasilan program tidak cukup diukur dari jumlah siswa yang mengikuti pembinaan.

Siapa yang Menentukan Peserta?

Hal lain yang perlu diperjelas adalah mekanisme penentuan peserta.

Pemerintah perlu menjelaskan kriteria siswa yang membutuhkan pembinaan, bagaimana sekolah mengusulkan peserta, bagaimana orang tua dilibatkan, serta bentuk evaluasi setelah kegiatan selesai.

Sebab persoalan siswa tidak selalu sama.

Siswa dengan tingkat kehadiran rendah memiliki persoalan yang berbeda dengan siswa yang melakukan pelanggaran tata tertib atau terlibat konflik dengan siswa lain.

Karena itu, kriteria peserta dan bentuk pembinaan menjadi penting agar program tidak berhenti pada satu pendekatan untuk berbagai persoalan yang berbeda.

Banten Bukan Pertama Kali Melibatkan TNI

Pelibatan TNI dalam pembinaan pelajar bukan sepenuhnya hal baru di Banten.

Pada 2025, kegiatan pembinaan karakter dan deklarasi pelajar antitawuran juga pernah digelar dengan melibatkan Yonif 203/Arya Kemuning.

Yang berbeda, program yang disiapkan tahun ini berada dalam skala tingkat Provinsi Banten dan menargetkan hingga 1.000 siswa dengan pola pembinaan dua hari satu malam.

Skala tersebut membuat evaluasi program menjadi penting.

Bukan hanya berapa siswa yang masuk program, tetapi berapa banyak yang menunjukkan perubahan setelah kembali ke sekolah.

Ukuran Keberhasilan Bukan di Barak

Pemprov Banten telah menegaskan bahwa siswa tidak akan digembleng seperti personel TNI.

Karena itu, publik perlu mengetahui bentuk kegiatan secara konkret, materi yang diberikan, mekanisme pengawasan, serta tindak lanjut setelah siswa kembali ke lingkungan sekolah.

Sebab pembinaan tidak selesai ketika siswa meninggalkan barak.

Jika tujuan program adalah mengubah perilaku siswa, maka keberhasilannya harus terlihat bukan ketika mereka berada di barak, melainkan ketika mereka kembali duduk di bangku sekolah.

Di situlah program pembinaan 600 hingga 1.000 siswa Banten akan benar-benar diuji.

Arya D.M

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *