Lebak – Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kabupaten Lebak terus memperkuat program pelatihan keterampilan dan magang bagi siswa SMK, mahasiswa, serta pencari kerja muda. Langkah tersebut dilakukan sebagai bagian dari strategi pemerintah daerah untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan menekan angka pengangguran yang masih menjadi tantangan pembangunan daerah.
Sekretaris Disnaker Kabupaten Lebak, Rully Charuliyanto, mengatakan pelatihan yang diberikan mencakup berbagai bidang, mulai dari pertukangan bangunan, las listrik, otomotif, komputer, manajemen, bahasa, pertanian, menjahit hingga kuliner.
“Kita melakukan berbagai pelatihan keterampilan dan pesertanya ada dari SMK, mahasiswa, dan anak muda pencari kerja,” kata Rully di Lebak, Selasa.
Pelatihan dilaksanakan di Balai Latihan Kerja (BLK) milik pemerintah daerah dengan instruktur bersertifikat. Selain pembekalan keterampilan teknis, peserta juga mendapatkan bimbingan karier, simulasi wawancara kerja, penyusunan lamaran kerja, serta pengenalan dunia industri.
Disnaker juga menjalin kerja sama dengan sejumlah perusahaan di Tangerang maupun perusahaan penempatan tenaga kerja luar negeri guna memperluas akses kerja bagi masyarakat Lebak.
Pengangguran Menurun, Tetapi Masih Menjadi Tantangan
Program peningkatan kompetensi tenaga kerja tersebut dijalankan di tengah tren membaiknya kondisi ketenagakerjaan di Kabupaten Lebak. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan tingkat pengangguran terbuka (TPT) daerah ini mengalami penurunan pada 2024 dibandingkan tahun sebelumnya.
Meski demikian, penurunan angka pengangguran tidak otomatis menunjukkan seluruh persoalan ketenagakerjaan telah terselesaikan. Masih terdapat kelompok usia produktif yang menghadapi kesenjangan antara kompetensi yang dimiliki dengan kebutuhan dunia usaha dan industri.
Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah daerah karena sebagian besar pencari kerja baru berasal dari lulusan sekolah menengah dan perguruan tinggi yang memasuki pasar kerja setiap tahun.
Efektivitas Program Bergantung pada Kebutuhan Industri
Secara konseptual, program pelatihan kerja merupakan instrumen penting dalam meningkatkan daya saing tenaga kerja. Namun keberhasilannya sangat ditentukan oleh kesesuaian materi pelatihan dengan kebutuhan industri.
Bidang-bidang seperti otomotif, administrasi digital, manufaktur, logistik, perhotelan, dan pertanian modern merupakan sektor yang saat ini relatif banyak membutuhkan tenaga kerja terampil. Karena itu, pemetaan kebutuhan industri menjadi faktor kunci agar pelatihan tidak hanya menghasilkan sertifikat, tetapi juga peluang kerja nyata.
Dalam konteks ini, langkah Disnaker yang menghubungkan sekolah, kampus, BLK, dan perusahaan melalui program magang dapat menjadi jembatan antara dunia pendidikan dan dunia kerja.
“Pemerintah daerah memetakan kebutuhan tenaga kerja dari dunia usaha, lalu menyiapkan peserta magang sesuai bidangnya,” ujar Rully.
Magang Bukan Sekadar Formalitas
Salah satu persoalan yang kerap muncul dalam program pengembangan tenaga kerja adalah magang yang hanya berfungsi sebagai kegiatan administratif tanpa menghasilkan peluang kerja lanjutan.
Karena itu, Disnaker Lebak menekankan pentingnya pembekalan, pendampingan, evaluasi, serta peluang rekrutmen setelah masa magang berakhir.
Pendekatan tersebut dinilai lebih relevan dibanding model magang konvensional yang hanya berorientasi pada pemenuhan syarat akademik. Jika perusahaan terlibat aktif dalam proses pembinaan dan seleksi, program magang dapat menjadi jalur rekrutmen yang efektif bagi tenaga kerja muda.
Ukuran Keberhasilan Tidak Hanya Jumlah Peserta
Dari perspektif kebijakan publik, keberhasilan program pelatihan kerja tidak cukup diukur dari jumlah pelatihan yang diselenggarakan atau banyaknya peserta yang mengikuti kegiatan.
Indikator yang lebih penting adalah tingkat penyerapan kerja setelah pelatihan, jumlah peserta yang berhasil memperoleh pekerjaan, tingkat keberlanjutan usaha yang dirintis alumni pelatihan, serta peningkatan pendapatan peserta.
Tanpa indikator tersebut, sulit mengukur sejauh mana pelatihan benar-benar berkontribusi terhadap penurunan pengangguran.
Karena itu, pemerintah daerah perlu membangun sistem pelacakan (tracer study) terhadap peserta pelatihan dan magang guna mengetahui dampak program secara nyata terhadap kondisi ketenagakerjaan di Kabupaten Lebak.
Membangun Ekosistem Ketenagakerjaan
Program yang dijalankan Disnaker Lebak menunjukkan adanya upaya membangun ekosistem ketenagakerjaan yang lebih terintegrasi, mulai dari pendidikan, pelatihan, magang hingga penempatan kerja.
Strategi ini dinilai lebih berkelanjutan dibanding pendekatan yang hanya berfokus pada pencarian lowongan kerja semata. Namun keberhasilannya tetap bergantung pada konsistensi pelaksanaan program, keterlibatan dunia usaha, serta kemampuan pemerintah daerah menyesuaikan pelatihan dengan kebutuhan pasar kerja yang terus berubah.
Jika ketiga faktor tersebut berjalan beriringan, program pelatihan dan magang tidak hanya berpotensi menurunkan angka pengangguran, tetapi juga meningkatkan kualitas tenaga kerja lokal dan memperkuat daya saing ekonomi Kabupaten Lebak dalam jangka panjang.
Tim Analistis.






