Ekonomi Banten Tumbuh, Tapi Seberapa Berkualitas Pertumbuhannya?

ANALISTIS.COM — Ekonomi Banten tumbuh. Kemiskinan juga menunjukkan perbaikan. Namun di sisi ketenagakerjaan, masih ada angka yang perlu diperhatikan: kualitas dan struktur pekerjaan.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekonomi Banten pada triwulan I-2026 tumbuh 5,64 persen secara tahunan (y-on-y) dibandingkan triwulan I-2025.

Di sisi ketenagakerjaan, TPT Banten pada Februari 2026 berada di angka 6,59 persen. Pada periode yang sama, sekitar 3,04 juta orang atau 52,19 persen penduduk yang bekerja berada dalam kegiatan formal. Proporsi pekerja formal itu turun 1,18 poin persentase dibandingkan Februari 2025.

Tiga indikator tersebut tidak otomatis menunjukkan hubungan sebab-akibat.

Tetapi cukup untuk mengajukan satu pertanyaan:

Seberapa berkualitas pertumbuhan ekonomi Banten?

Ekonomi Tumbuh, Pertanyaan Tidak Berhenti

Pertumbuhan 5,64 persen menunjukkan aktivitas ekonomi Banten tetap bergerak.

Pada triwulan I-2026, PDRB Banten atas dasar harga berlaku mencapai Rp247,20 triliun. Dari sisi produksi, sektor Pertanian, Kehutanan dan Perikanan mencatat pertumbuhan tertinggi, yakni 17,88 persen.

Artinya, pertumbuhan ekonomi Banten tidak hanya bisa dibaca dari satu jenis aktivitas.

Namun angka pertumbuhan ekonomi pada dasarnya menjelaskan perkembangan aktivitas ekonomi. Ia belum dengan sendirinya menjawab bagaimana perubahan tersebut diterjemahkan menjadi pekerjaan, pendapatan dan peluang ekonomi bagi masyarakat.

Di sinilah pembacaan terhadap ekonomi Banten perlu diperluas.

Sebab pertanyaan pentingnya bukan hanya berapa besar ekonomi tumbuh, tetapi juga apa yang berubah setelah ekonomi tumbuh.

Pekerjaan Menjadi Ukuran Penting

Pada Februari 2026, angkatan kerja Banten mencapai sekitar 6,24 juta orang dan penduduk yang bekerja sekitar 5,83 juta orang.

Jumlah penduduk bekerja memang bertambah dibandingkan Februari 2025.

Tetapi TPT masih berada di angka 6,59 persen. Pada saat yang sama, proporsi pekerja formal berada di angka 52,19 persen.

Data tersebut tidak boleh langsung digunakan untuk menyimpulkan bahwa pertumbuhan ekonomi menyebabkan perubahan struktur pekerjaan.

Hubungan sebab-akibat membutuhkan analisis yang lebih panjang.

Namun perubahan struktur pekerjaan tetap penting diperhatikan.

Sebab bertambahnya jumlah orang yang bekerja tidak otomatis menjelaskan seperti apa pekerjaan yang tersedia dan bagaimana pasar kerja berkembang.

Apakah pekerjaan yang tercipta semakin produktif?

Apakah keterampilan tenaga kerja lokal semakin sesuai dengan kebutuhan industri?

Apakah pertumbuhan sektor-sektor ekonomi membuka ruang lebih besar bagi pekerja dan usaha lokal?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi bagian penting ketika pertumbuhan ekonomi mulai dibaca dari sudut pandang masyarakat.

Angka Pengangguran Terus Bergerak

Ada satu hal yang harus diperhatikan ketika membaca data ketenagakerjaan Banten: angkanya terus berubah.

BPS mencatat TPT Banten pada Mei 2026 sebesar 6,48 persen, turun 0,11 poin persentase dibandingkan Februari 2026. Pada periode tersebut, jumlah penduduk bekerja mencapai 5,88 juta orang.

Artinya, angka 6,59 persen bukan kondisi ketenagakerjaan Banten yang paling mutakhir.

Ini justru memperlihatkan mengapa artikel mengenai ekonomi Banten tidak seharusnya dibuat sebagai potret satu hari.

Angka ekonomi bergerak.

Pasar kerja berubah.

Struktur pekerjaan dapat bergeser.

Karena itu, pembacaan ekonomi Banten juga harus terus diperbarui.

Kemiskinan Menunjukkan Cerita yang Lebih Kompleks

Pada September 2025, persentase penduduk miskin Banten tercatat 5,51 persen, turun 0,12 poin persentase dibandingkan Maret 2025. Jumlah penduduk miskin juga turun menjadi sekitar 760.850 orang.

Data tersebut penting karena menunjukkan bahwa cerita ekonomi Banten tidak bisa disederhanakan menjadi pertumbuhan ekonomi yang tidak memberikan perubahan sosial.

Ada indikator kemiskinan yang membaik.

Namun perubahannya tidak seragam.

Persentase penduduk miskin di perkotaan pada September 2025 tercatat 5,35 persen, sementara di perdesaan mencapai 6,27 persen. Kemiskinan perkotaan turun dibandingkan Maret 2025, sedangkan kemiskinan perdesaan meningkat dari 5,89 persen menjadi 6,27 persen.

Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi Banten perlu dibaca berdasarkan wilayah dan karakter masyarakatnya.

Banten Tidak Memiliki Satu Cerita Ekonomi

Banten memiliki kawasan metropolitan, kawasan industri, pusat perdagangan, wilayah pertanian, kawasan pesisir dan daerah yang masih memiliki ketergantungan besar pada sektor primer.

Karena itu, angka pertumbuhan tingkat provinsi tidak selalu menggambarkan pengalaman ekonomi yang sama bagi seluruh masyarakat.

Data ketimpangan juga memperlihatkan dinamika tersebut.

Gini Ratio Banten pada September 2025 tercatat 0,312. Di perkotaan, angkanya 0,314, sedangkan di perdesaan 0,234. Gini Ratio perkotaan turun dibandingkan Maret 2025, sementara Gini Ratio perdesaan justru meningkat.

Tidak perlu buru-buru menarik kesimpulan dari satu angka.

Yang lebih penting adalah melihat bahwa perubahan ekonomi Banten memiliki pola yang berbeda menurut wilayah.

Di satu sisi ada kawasan dengan aktivitas ekonomi yang sangat tinggi.

Di sisi lain terdapat wilayah yang menghadapi tantangan berbeda dalam menciptakan pekerjaan, meningkatkan produktivitas dan memperluas kesempatan ekonomi.

Dari Pertumbuhan ke Kualitas Pertumbuhan

Banten memiliki modal ekonomi yang besar.

Namun semakin besar skala ekonomi, semakin penting pula pertanyaan mengenai kualitas pertumbuhan.

Pertumbuhan ekonomi perlu dibaca bersama perkembangan pasar kerja, produktivitas, kesempatan usaha dan kondisi sosial masyarakat.

Sebab masyarakat tidak merasakan PDRB secara langsung.

Mereka merasakannya melalui pekerjaan.

Melalui pendapatan.

Melalui kemampuan menjalankan usaha.

Melalui harga kebutuhan.

Dan melalui peluang untuk memperbaiki kehidupan.

Karena itu, pertumbuhan ekonomi seharusnya tidak berhenti menjadi angka dalam laporan statistik.

Ia perlu diterjemahkan menjadi pertanyaan yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat:

Siapa yang memperoleh peluang dari pertumbuhan itu?

Pekerjaan seperti apa yang tercipta?

Wilayah mana yang paling banyak mendapatkan manfaat?

Dan yang paling penting:

Apakah pertumbuhan tersebut memperluas kesempatan ekonomi bagi masyarakat Banten?

Pertanyaan yang Tidak Boleh Berhenti

Angka pertumbuhan ekonomi Banten akan terus berubah.

Hari ini BPS mencatat pertumbuhan ekonomi triwulan I-2026 sebesar 5,64 persen. Data ketenagakerjaan Februari menunjukkan TPT 6,59 persen dan proporsi pekerja formal 52,19 persen. Beberapa bulan kemudian, TPT Mei 2026 sudah berubah menjadi 6,48 persen.

Perubahan angka tersebut bukan persoalan bagi artikel ini.

Justru itulah alasan artikel ini dibuat sebagai evergreen.

Ketika BPS menerbitkan data ekonomi dan sosial terbaru, angka-angka yang sudah berubah dapat diperbarui. Bagian analisis yang tetap relevan dipertahankan.

Dengan demikian, artikel ini tidak berhenti sebagai berita mengenai satu rilis statistik.

Ia menjadi catatan yang terus diperbarui mengenai bagaimana ekonomi Banten bergerak.

BPS sendiri menerbitkan Gambaran Ekonomi Sosial Provinsi Banten Triwulan I-2026 secara berkala. Publikasi tersebut mencakup PDRB, ketenagakerjaan, kemiskinan, Gini Ratio, inflasi dan sejumlah indikator sosial-ekonomi lainnya. Publikasi itu terakhir direvisi pada 16 September 2026.

Maka angka 5,64 persen bukanlah kesimpulan.

Ia hanya satu titik dalam perjalanan ekonomi Banten.

Pertanyaan yang lebih panjang tetap sama:

Seberapa berkualitas pertumbuhan ekonomi Banten?

Dan pertanyaan itu layak terus diperbarui setiap kali angka baru diterbitkan.

 

Redaksi Analistis.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *