Paradoks Banten 2026: Investasi Rp34,36 Triliun, Pengangguran Masih 411 Ribu Orang

SERANG RAYA – Banten kembali mencatat prestasi ekonomi pada awal 2026. Pertumbuhan ekonomi mencapai 5,64 persen, sedikit lebih tinggi dibanding rata-rata nasional sebesar 5,61 persen. Pada saat yang sama, realisasi investasi menembus Rp34,36 triliun, menjadikan Banten sebagai provinsi dengan investasi terbesar ketiga di Indonesia setelah Jawa Barat dan DKI Jakarta.

Namun di balik angka-angka tersebut, terdapat fakta yang menimbulkan pertanyaan besar: mengapa jumlah pengangguran masih mencapai sekitar 411 ribu orang? Fenomena ini menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi dan derasnya arus investasi belum otomatis berbanding lurus dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Inilah paradoks yang sedang dihadapi Banten.

Selama bertahun-tahun Banten dipuji sebagai salah satu pusat industri terbesar di Indonesia. Kawasan industri di Tangerang Raya, Kabupaten Serang, dan Cilegon terus berkembang dengan nilai investasi puluhan triliun rupiah setiap tahun. Namun fakta bahwa sekitar 411 ribu warga Banten masih menganggur menunjukkan bahwa keberhasilan menarik investasi belum sepenuhnya berhasil diterjemahkan menjadi penciptaan lapangan kerja berkualitas bagi masyarakat lokal.

Pertumbuhan ekonomi memang terjadi, tetapi manfaatnya belum tersebar secara merata. Inilah paradoks pembangunan yang sedang dihadapi Banten: investasi meningkat, pabrik bertambah, tetapi pengangguran masih menjadi persoalan serius.

Investasi Melonjak, Lapangan Kerja Tidak Bertambah Signifikan

Data menunjukkan realisasi investasi Banten pada Triwulan I 2026 mencapai Rp34,36 triliun atau tumbuh sekitar 10,6 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Capaian tersebut menempatkan Banten sebagai salah satu magnet investasi nasional.

Namun pada Februari 2026, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Banten masih berada di angka 6,59 persen atau sekitar 411 ribu orang. Penurunannya relatif kecil dibanding tahun sebelumnya. Artinya, pertumbuhan investasi yang besar belum mampu memberikan dampak signifikan terhadap penyerapan tenaga kerja.

Banten Tumbuh Lebih Cepat dari Nasional, Tetapi…

Secara ekonomi, kinerja Banten memang patut diapresiasi. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Banten pada Triwulan I 2026 mencapai Rp247,20 triliun dengan pertumbuhan 5,64 persen, sedikit di atas pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,61 persen.

Namun jika dilihat dari sisi ketenagakerjaan, tantangannya masih besar. Meskipun jumlah penduduk bekerja meningkat, tingkat pengangguran Banten masih termasuk yang tertinggi di Indonesia.

Indikator Banten Nasional
Pertumbuhan Ekonomi 5,64% 5,61%
Tingkat Pengangguran Terbuka 6,59% ±4,7%
Investasi Triwulan I 2026 Rp34,36 Triliun
Jumlah Penganggur 411 Ribu Orang

Tabel tersebut menunjukkan bahwa meskipun pertumbuhan ekonomi Banten sedikit lebih tinggi dibanding rata-rata nasional, tingkat penganggurannya masih jauh di atas rata-rata Indonesia. Kondisi ini menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi Banten belum sepenuhnya bersifat inklusif.

Pertumbuhan Ekonomi Belum Sepenuhnya Menekan Kemiskinan

Meski ekonomi tumbuh dan investasi terus mengalir, tantangan kesejahteraan masyarakat belum sepenuhnya selesai. Data BPS menunjukkan persentase penduduk miskin di Banten pada September 2025 berada di angka 5,51 persen atau sekitar 760,85 ribu jiwa.

Angka tersebut memang menunjukkan tren penurunan dibanding periode sebelumnya. Namun keberadaan lebih dari 760 ribu penduduk miskin memperlihatkan bahwa manfaat pertumbuhan ekonomi belum dirasakan secara merata oleh seluruh lapisan masyarakat.

Fakta ini memperlihatkan bahwa tantangan pembangunan Banten tidak hanya soal menciptakan pertumbuhan ekonomi tinggi, tetapi juga memastikan hasil pertumbuhan tersebut mampu mengurangi kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara lebih luas.

Investasi Besar, Tetapi Belum Menyerap Tenaga Kerja Secara Optimal

Salah satu penyebab utama kondisi ini adalah karakter investasi yang masuk ke Banten masih didominasi sektor padat modal. Sebagian besar investasi bergerak di sektor manufaktur modern, industri kimia, logistik, energi, dan teknologi yang membutuhkan modal besar namun tidak selalu menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar.

Akibatnya, meskipun nilai investasi meningkat setiap tahun, jumlah tenaga kerja yang terserap tidak tumbuh secepat nilai investasi tersebut.

Ekonom Untirta, Nana Darna, menilai tingginya pengangguran di Banten tidak semata-mata disebabkan kurangnya investasi, melainkan adanya ketidaksesuaian antara kebutuhan industri dan kompetensi tenaga kerja yang tersedia.

“Banten membutuhkan investasi yang lebih inklusif dan mampu menyerap tenaga kerja lokal dalam jumlah besar. Selain itu, pendidikan vokasi dan pelatihan kerja harus diperkuat agar kebutuhan industri dapat dipenuhi oleh tenaga kerja daerah sendiri.”

Pernyataan tersebut memperkuat fakta bahwa persoalan utama Banten saat ini bukan hanya menarik investor, melainkan memastikan masyarakat lokal memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan dunia usaha dan industri.

Belajar dari Jawa Barat

Jika dibandingkan dengan Jawa Barat, kondisi Banten menghadapi tantangan yang berbeda. Kedua provinsi sama-sama menjadi pusat industri nasional dan tujuan utama investasi.

Namun Jawa Barat memiliki basis industri yang lebih tersebar di berbagai wilayah seperti Bekasi, Karawang, Purwakarta, Subang, hingga Majalengka. Sementara di Banten, sebagian besar investasi masih terkonsentrasi di Tangerang Raya dan Cilegon.

Perbedaan tersebut membuat manfaat investasi di Jawa Barat relatif lebih tersebar ke berbagai daerah. Sebaliknya, Banten masih menghadapi ketimpangan pembangunan antara wilayah utara yang maju dengan wilayah selatan yang tertinggal. Kondisi ini menjadi salah satu penyebab mengapa pertumbuhan ekonomi tinggi belum sepenuhnya mampu menurunkan pengangguran dan kemiskinan secara signifikan di seluruh wilayah provinsi.

Ketimpangan Utara dan Selatan Banten

Persoalan lain yang jarang dibahas adalah ketimpangan pembangunan antara wilayah utara dan selatan Banten.

Sebagian besar investasi masih terkonsentrasi di Tangerang Raya dan Cilegon. Kabupaten Tangerang, Kota Tangerang, Kota Tangerang Selatan, dan Kota Cilegon menjadi pusat aktivitas industri dan jasa modern. Sementara itu, wilayah selatan seperti Lebak dan Pandeglang masih menghadapi keterbatasan investasi, infrastruktur, dan lapangan kerja.

Akibatnya, pertumbuhan ekonomi lebih terasa di kawasan industri dan perkotaan dibanding daerah agraris. Ketimpangan ini menyebabkan kesempatan kerja baru juga terkonsentrasi pada wilayah tertentu.

Padahal Banten Selatan memiliki potensi besar pada sektor pertanian modern, perikanan, agroindustri, pariwisata, hingga industri pengolahan hasil alam yang relatif lebih padat karya. Kehadiran Tol Serang–Panimbang diperkirakan dapat menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi baru di wilayah tersebut dalam beberapa tahun ke depan.

Infografik: Pengangguran Pulau Jawa 2026

 

Provinsi Tingkat Pengangguran Terbuka
Banten 6,59%
Jawa Barat ±6,3%
DKI Jakarta ±5,8%
Jawa Timur ±4,1%
Jawa Tengah ±4,0%
DI Yogyakarta ±3,9%

Fakta utama: Banten masih berada dalam kelompok provinsi dengan tingkat pengangguran tertinggi di Pulau Jawa meskipun menjadi salah satu tujuan investasi terbesar di Indonesia.

Jalan Keluar dari Paradoks Banten

Untuk keluar dari paradoks antara tingginya investasi dan masih besarnya angka pengangguran, setidaknya terdapat empat langkah strategis yang perlu menjadi perhatian pemerintah daerah dan pelaku industri.

Pertama, memperkuat pendidikan vokasi dan pelatihan kerja berbasis kebutuhan industri sehingga lulusan sekolah dan perguruan tinggi lebih siap memasuki dunia kerja.

Kedua, mendorong investasi padat karya di sektor manufaktur, agroindustri, perikanan, dan pengolahan hasil pertanian yang mampu menyerap tenaga kerja lebih besar dibanding industri padat modal.

Ketiga, mempercepat pembangunan ekonomi Banten Selatan agar investasi tidak hanya terpusat di Tangerang Raya dan Cilegon. Kehadiran Tol Serang–Panimbang harus dimanfaatkan untuk membuka pusat pertumbuhan ekonomi baru di Lebak dan Pandeglang.

Keempat, memperkuat UMKM sebagai sektor yang selama ini terbukti menjadi salah satu penyerap tenaga kerja terbesar di daerah.

Tantangan Sesungguhnya Bukan Lagi Mencari Investor

Selama bertahun-tahun keberhasilan daerah sering diukur dari besarnya investasi yang masuk. Namun bagi Banten saat ini, tantangan utamanya bukan lagi menarik investor.

Tantangan yang lebih penting adalah memastikan investasi tersebut mampu menciptakan lapangan kerja berkualitas bagi masyarakat lokal, meningkatkan keterampilan tenaga kerja, dan mendorong pemerataan pembangunan hingga ke wilayah selatan.

Pertanyaan terbesar bagi Banten hari ini bukan lagi berapa triliun rupiah investasi yang berhasil masuk, melainkan berapa banyak warga Banten yang benar-benar memperoleh pekerjaan, penghasilan, dan masa depan yang lebih baik dari investasi tersebut. Jika jawaban atas pertanyaan itu belum memuaskan, maka pertumbuhan ekonomi yang tinggi hanya akan menjadi angka yang indah di atas kertas.

 

Tim Analistis.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *