JAKARTA – Harga minyak dunia anjlok lebih dari tiga persen pada Kamis (18/6/2026) setelah Amerika Serikat dan Iran mencapai kesepakatan untuk mengakhiri konflik yang berlangsung selama lebih dari tiga bulan serta membuka kembali Selat Hormuz, jalur pelayaran yang menjadi urat nadi perdagangan energi global.
Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) tercatat turun 3,4 persen menjadi US$74,18 per barel, sementara minyak mentah Brent North Sea melemah 3,02 persen menjadi US$77,15 per barel.
Berdasarkan laporan Reuters, Amerika Serikat dan Iran telah menandatangani memorandum kesepahaman yang membuka jalan bagi penghentian konflik, pembukaan kembali Selat Hormuz, serta dimulainya fase negosiasi lanjutan selama 60 hari.
Koreksi tersebut memperpanjang tren penurunan yang telah terjadi sejak kabar mengenai kesepakatan mulai beredar pada akhir pekan lalu.
Analisis
Anjloknya harga minyak menunjukkan bahwa pasar global menilai risiko gangguan pasokan energi mulai mereda. Selama konflik berlangsung, perhatian utama investor tertuju pada Selat Hormuz yang menjadi jalur sekitar seperlima perdagangan minyak dunia.
Gangguan pada jalur tersebut sebelumnya memicu kekhawatiran terhadap distribusi energi global dan mendorong lonjakan harga minyak. Namun, kesepakatan terbaru membuka harapan bahwa arus perdagangan energi dapat kembali normal dalam waktu dekat.
Bagi negara-negara pengimpor energi, termasuk Indonesia, kondisi ini berpotensi memberikan ruang bagi stabilitas harga energi dan membantu menekan tekanan inflasi yang sempat meningkat akibat gejolak geopolitik di Timur Tengah.
Meski dampaknya tidak langsung terasa di tingkat konsumen, tren harga minyak yang lebih rendah berpotensi mengurangi tekanan biaya energi dan inflasi dalam beberapa bulan ke depan.
Meski demikian, pasar masih menunggu implementasi konkret dari kesepakatan tersebut. Sejumlah isu strategis seperti mekanisme pelonggaran sanksi, pengawasan program nuklir Iran, serta jaminan keamanan kawasan masih akan dibahas dalam negosiasi lanjutan.
Dengan kata lain, pasar sedang merespons harapan atas stabilitas baru, bukan kepastian bahwa seluruh risiko geopolitik di Timur Tengah telah hilang.
Verifikasi Fakta
Reuters menyebut memorandum kesepahaman yang ditandatangani Amerika Serikat dan Iran membuka fase negosiasi lanjutan selama 60 hari. Implementasi pembukaan Selat Hormuz dan pelonggaran sanksi terhadap Iran akan dilakukan secara bertahap sehingga pasar masih mencermati perkembangan berikutnya sebelum menilai kesepakatan tersebut sebagai penyelesaian permanen.
Sejumlah isu strategis, termasuk program nuklir Iran dan normalisasi hubungan kedua negara, juga masih menjadi bagian dari proses perundingan lanjutan.
Pernyataan Para Pihak
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengonfirmasi penandatanganan nota kesepahaman dengan Iran di Versailles, Prancis, seusai menghadiri KTT G7.
“Baru saja menandatanganinya,” kata Trump kepada wartawan.
Dari pihak Iran, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baqaei menyatakan dokumen tersebut telah diselesaikan dan ditandatangani oleh kedua presiden.
“Dokumen tersebut telah diselesaikan dengan tanda tangan para presiden,” ujar Baqaei seperti dikutip kantor berita resmi Iran, IRNA.
Sementara itu, Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif yang disebut berperan sebagai mediator proses negosiasi mengatakan pembukaan kembali Selat Hormuz akan menjadi langkah awal implementasi kesepakatan.
“Sebagai langkah pertama, Republik Islam Iran akan segera membuka kembali Selat Hormuz dan Amerika Serikat akan segera mencabut blokade angkatan laut,” kata Sharif.
Kesepakatan tersebut juga membuka jalan bagi pelonggaran sanksi sektor minyak Iran serta perundingan lanjutan mengenai program nuklir dan normalisasi hubungan kedua negara.
Bagi pasar energi global, kesepakatan ini bukan sekadar soal berakhirnya konflik. Yang sedang diuji adalah apakah diplomasi mampu menjaga salah satu jalur minyak terpenting dunia tetap terbuka.
Jika komitmen kedua negara bertahan, harga energi berpotensi lebih stabil dan tekanan inflasi global dapat mereda. Namun jika ketegangan kembali muncul, pasar akan kembali diingatkan bahwa Selat Hormuz tetap menjadi salah satu titik paling sensitif dalam peta energi dunia.
Bagi pasar, kesepakatan ini belum menghapus seluruh risiko geopolitik. Namun setidaknya, muncul harapan baru bahwa stabilitas energi global dapat kembali terjaga setelah berbulan-bulan diliputi ketidakpastian.
Tim Analistis.






